Makanlah Nasi Sekali Saja !
Ini adalah nasihat buat
mereka yang terlalu banyak mengonsumsi makanan kaya karbohidrat (KH).
Dengan cara itu, penolakan insulin bisa dihindari. Kemungkinan menderita
kegemukan, diabetes tipe 2,hipertensi,dan serangan jantung pun bisa
diperkecil.
Makan nasi tiga kali sehari sudah jadi kebiasaan orang kita. Namun,
sadarkah bahwa perkembangan zaman membuat kita mengonsumsi KH dalam
jumlah besar dan dengan frekuensi tinggi ? Sekadar contoh, banyak yang
bilang belum makan kalau belum makan nasi. Padahal dia sudah menyantap 1
- 2 potong roti isi daging, keju, atau pisang cokelat. Bahkan, ada
yang doyan ngemil di antara waktu makan nasi tiga kali sehari. Dalam
tujuh jam kerja misalnya, seorang karyawan bisa mengonsumsi kopi atau
teh tiga kali, masing-masing dengan gula sebanyak 3 - 4 sendok teh.
Belum lagi makan camilan. Artinya, sepanjang hari mereka melahap
berbagai makanan sumber KH.
Tak bisa disangkal, industri makanan seperti cake, cookies, permen, dan
berbagai jenis soft drink membuat kita dengan mudah mengonsumsi camilan
ber-KH tinggi itu. Belum lagi produk junk food yang hadir untuk memenuhi
kebutuhan orang makan cepat lantaran desakan waktu. Bila hal itu
berlanjut, kita akan ketagihan untuk terus-menerus mengonsumsi KH dalam
jumlah besar. Kita pun masuk dalam keadaan yang disebut adiksi KH, yakni
suatu ketidakseimbangan fisik yang membuat kita terpaksa terus merasa
lapar akan makanan sumber KH. Yang termasuk dalam makanan sumber KH di
antaranya nasi, roti, cake, sereal, es krim, cokelat, potato chips,
kentang, popcorn, dan berbagai makanan manis.
Apa bahayanya? Yang pasti, berbagai penyakit bisa muncul. Termasuk di
dalamnya kuartet penyakit mematikan - obesitas, diabetes mellitus,
hipertensi, dan penyakit jantung.
Celakanya, terapi atau pengobatannya sering memberatkan atau bahkan
mustahil dijalankan oleh sebagian penderitanya. Untuk mengontrol tekanan
darah tinggi misalnya, selain harus mengonsumsi obat hipertensi, seorang
penderita juga mesti menjalani modifikasi gaya hidup berupa diet dan
olahraga. Ia kudu menjalani diet dengan membatasi asupan lemak, kalori,
dan garam. Ini yang sering membuat penderita berjuang keras mengubah
pola makannya dan frustrasi karena tubuh mereka tak henti-hentinya
menuntut makan. Akhirnya, ia gagal menjalaninya.
Namun, jangan khawatir. Para dokter dan ilmuwan menemukan bahwa
hiperinsulinemi (kelebihan kadar insulin dalam darah) dan resistensi
insulin (penolakan tubuh atas aksi hormon insulin) bertanggung jawab
atas perkembangan penyakit-penyakit itu. American Heart Association
pernah menyatakan, kadar insulin yang tinggi telah menjadi penanda
adanya risiko serangan jantung. Dengan adanya pengetahuan baru ini,
metode pencegahan dan perbaikan kondisi penderita penyakit obesitas,
diabetes mellitus, hipertensi, dan penyakit jantung berubah sama sekali.
Kini penderita tidak perlu menjalani program diet memberatkan. Pada
dasarnya program baru itu bertujuan mengontrol kadar insulin dalam
darah. Anda dapat makan sebanyak Anda suka, karena jumlah kalori yang
dikonsumsi tidak berarti berkaitan dengan penambahan bobot badan. Yang
penting, apa yang dimakan dan bagaimana cara memakannya.
"Jenuh" insulin
Begini ceritanya. Tubuh kita memiliki keseimbangan hormonal untuk
mengatur metabolisme. Energi dari makanan di dalam tubuh akan diubah
menjadi gula darah. Untuk menyimpan gula itu sebagai cadangan energi,
hadirlah hormon insulin. Sementara hormon glukagon berperan "memakai"
atau membakar gula itu menjadi energi. Di kala terjadi kelangkaan
makanan atau kelaparan berkepanjangan, insulin meningkat perannya. Dalam
kondisi itu energi sebisa mungkin dihemat. Hormon inilah yang membuat
orang primitif bertahan hidup di zaman yang tidak mudah mendapatkan
makanan. Sebaliknya, di zaman serba mudah memperoleh makanan, insulin
justru membuat kita terbunuh.
Jika mengonsumsi makanan sumber KH, kadar insulin darah kita meningkat.
Bahkan, peningkatan itu sudah berlangsung sejak melihat, mengecap, atau
memikirkan makanan itu. Ini fase pertama gejala resistensi insulin. Bila
kondisi dalam fase pertama berlanjut, sel-sel organ tubuh bakal "jenuh"
dengan insulin. Sel-sel, terutama di hati dan otot, memblok insulin
sehingga insulin dan gula darah yang masuk ke dalam organ itu berkurang.
Akibatnya, si insulin menuju ke jaringan lemak. Tabungan lemak kita pun
menjadi bertumpuk dan obesitas mulai menampakkan diri. Tahapan ini
dinamakan fase kedua resistensi insulin. Pada fase ini kelainan-kelainan
mulai muncul, seperti peningkatan tekanan darah dan kandungan kolesterol
darah. Akibatnya, pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit. Istilah
medisnya, arterosklerosis. Bila terjadi pada pembuluh darah jantung,
pintu masuk penyakit jantung koroner pun terbuka lebar. Seandainya fase
kedua terus berlanjut, sejumlah organ kita mengalami kekurangan gula
(hipoglikemi). Organ paling peka terhadap kondisi ini adalah otak. Kalau
pasokan gula untuk sel-sel otak tidak cukup, muncullah gejala berupa
perubahan mood yang membuat kita irritable, kelelahan, tak mampu
berkonsentrasi, depresi, dan sakit kepala.
Untuk mengatasinya tubuh akan semakin keras mencari gula. Kita pun
dibuat sedemikian rupa untuk harus mengonsumsi makanan sumber KH.
Konsumsi KH kita semakin tak terkontrol. Kita pun masuk ke fase ketiga
resistensi insulin. Pada fase ini tekanan darah dan proses
arterosklerosis semakin meningkat. Begitu lemak menjadi "jenuh" insulin,
kita memasuki fase keempat. Insulin dan gula darah tidak lagi bisa
disalurkan ke mana-mana. Keduanya terjebak dalam peredaran darah. Maka
terjadilah diabetes tipe 2 - diabetes yang didapat setelah dewasa. Saat
ini tekanan darah sulit dikontrol dan arterosklerosis memasuki tahap
lanjut. Serangan jantung tinggal menunggu waktu.
Insulin menaikkan tekanan darah melalui dua cara. Pertama, mempengaruhi
secara langsung sistem saraf simpatis yang langsung meningkatkan kerja
jantung. Kedua, dengan menahan natrium dan air dalam darah sehingga
volume darah meningkat, yang akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Ketiga, arterosklerosis membuat pembuluh darah menyempit sehingga
tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah lebih tinggi. Jadi,
insulin bertanggung jawab terhadap kasus-kasus hipertensi primer. Karena
insulin merupakan pintu menuju sejumlah penyakit tadi, maka insulin
pulalah yang menjadi kunci pemecahannya. Mencegah resistensi insulin
dengan menjalani gaya hidup yang dapat mengontrol kadar insulin perlu
dilakukan untuk membebaskan diri dari empat penyakit yang disebut di
muka.
Utamakan rendah KH
Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menggempur resistensi insulin
yaitu membebaskan diri dari adiksi KH. Caranya, mengurangi jumlah KH dan
mengimbangi makanan tinggi KH dengan makanan ber-KH rendah dalam
komposisi menu makanan.
Dalam sebuah program jantung sehat untuk orang teradiksi KH, dr. Richard
Heller dan dr. Rachel Heller menganjurkan agar makanan sumber KH
dikonsumsi sekali dalam jadwal makan kita sehari-hari. Itu pun tidak
hanya berisi makanan sumber KH, melainkan diimbangi juga dengan protein
dan sayuran yang ber-KH rendah dalam porsi yang sama besar. Gampangnya,
bagilah porsi makanan kita dalam tiga bagian yang sama besar; 1/3 bagian
makanan sumber KH, 1/3 bagian makanan sumber protein ber-KH rendah, dan
sisanya sayuran ber-KH rendah. Untuk jadwal makan lainnya dianjurkan
mengonsumsi makanan rendah KH. Ngemil boleh saja, asalkan makanannya
rendah KH.
Bagi orang Indonesia makanan sumber KH yang utama adalah nasi. Makanan
sumber protein ber-KH rendah meliputi daging (ikan, sapi, ayam, dsb.),
tempe, tahu, dll. Semua sayuran, di antaranya bayam dan kangkung, juga
ber-KH rendah. Pada metode diet Heller kita dianjurkan makan nasi hanya
satu kali sehari (umumnya kita makan tiga kali sehari), disertai makanan
sumber protein dan sayur dengan perbandingan yang sama. Untuk jadwal
makan lainnya kita boleh melahap makanan sumber protein dan sayuran
sesuka kita, tetapi tanpa nasi!
Perlu diingat, buah merupakan bahan makanan yang mengandung fruktosa
sehingga dapat pula menimbulkan peningkatan kadar insulin. Namun, bila
buah dimakan sebagai buah utuh, fruktosa masih diimbangi oleh serat yang
dikandung buah tersebut. Lain cerita bila buah tersebut dijus. Pada buah
yang dijus, seratnya sudah hancur sehingga tidak ada yang mengimbangi
kehadiran fruktosa yang bisa merangsang peningkatan insulin. Berbagai
buah tersebut, seperti apel, pisang, mangga, nenas, jeruk, dll.,
dianjurkan untuk dikonsumsi saat kita menyantap makanan ber-KH tinggi
dan tidak dianjurkan dilakukan pada jadwal makan lain.
Makanan sumber KH sebaiknya dihabiskan sekaligus dalam waktu tidak lebih
dari satu jam. Jadi, jangan dicicil! Misalnya, kita makan cake satu jam
setelah kita makan nasi. Bila hal itu terjadi, maka tubuh kita akan dua
kali melepaskan insulin dalam jumlah besar, sehingga kalau keseringan
akan menimbulkan resistensi insulin.
Bagaimana dengan lemak?
Penelitian menunjukkan, tidak semua lemak berbahaya bagi tubuh. Lemak
yang meningkatkan insulin darah adalah lemak jenuh. Misalnya mentega,
margarin, minyak kelapa, santan, dsb. Bahan-bahan tersebut biasanya
tersembunyi dalam cookies, crackers, dan french fries. Sebaliknya, lemak
tidak jenuh tidak berbahaya bagi insulin. Contohnya, minyak ikan, minyak
zaitun, kacang, jagung, dsb.
Kita juga tidak perlu lagi pusing-pusing menghitung jumlah kalori
makanan yang kita konsumsi serta diteror diet rendah lemak dan diet
rendah garam. Besarnya kalori yang kita makan tidak menentukan berat
tubuh kita. Salah satu buktinya, Miller dan P. Mumford mencatat pada
1967 beberapa orang mengonsumsi 8.000 - 10.000 Kalori per minggu,
tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari umumnya, tetapi mereka masih
bisa kehilangan bobot badannya. Sebaliknya, ada pula orang yang makan
jauh lebih sedikit dari umumnya, tapi bobot tubuhnya bertambah terus.
Jadi, tidak penting berapa banyak Anda makan, tetapi perhatikan apa yang
dimakan dan cara memakannya.
Diet yang benar meletakkan dasar yang kokoh untuk menjalani
program-program berikutnya. Untuk menambah vitalitas, kita bisa
melakukan olaraga. Yang tak kalah penting, mengelola stres sehari-hari.
Kurang aktif secara fisik dan stres bisa pula memicu insulin.
Khusus bagi kaum perempuan, perlu juga memberi perhatian pada berbagai
kontrasepsi hormonal. Substansi kontrasepsi tersebut juga dapat
merangsang produksi insulin.
Jadi, bagaimana dengan kita ?..........